Breaking News

Hewan Terbaik Dalam Pelaksanaan Aqiqah

Aqiqah adalah salah satu sarana bagi seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, harus dipilih hewan terbaik dalam hal keselamatan dari cacat dan cukup usia yang diperlukan sebagaimana telah berlalu penjelasannya. Juga dianjurkan untuk memilih yang gemuk, besar, bagus dan terbebas dari segala sesuatu yang menyebabkan ditolak oleh akal sehat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW berikut:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَ يُحْلَقُ وَ يُسَمَّى

“Dari Samurah bin Jundab dia berkata : Rasulullah bersabda : Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ke tujuh, dicukur dan diberi nama.” (Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya)

 

Dalm pemilihan hewan , hewan jantan lebih baik apabila lebih gemuk dan lebih bagus. Sebab  Nabi Muhammad SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain dengan domba jantan. Al-Hafizh al-Iraqi mengatakan, “Nabi Muhammad SAW  pada aqiqah kedua cucu beliau memilih yang paling sempurna, yaitu domba jantan.”

Disebutkan bahwa Imam Ahmad ditanya tentang aqiqah, “Bolehkah dengan kambing yang masih perawan atau yang sudah hamil besar?” Beliau menjawab pejantan lebih baik.

Para ulama berbeda pendapat pada hewan yang terbaik untuk aqiqah. Para ulama penganut mazhab Syafi’I dalam pendapat mereka yang paling kuat dan sebagian ulama penganut mazhab Maliki mengatakan bahwa yang terbaik adalah unta, keudian sapi, lalu domba dan diakhiri dengan kambing. Mereka katakana; karena aqiqah adalah ritual nusuk, sehingga yang terbesar adalah yang terbaik, memakai analogi badyi.

Imam Maliki berkata, Domba adalah yang terbaik, kemudian biri-biri. Ini lebih disukai oleh Nabi Muhammad SAW dibandingkan dengan unta dan sapi. Sebab nabi Muhammad SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain dengan kambing masing-masing satu ekor.” Ini juga merupakan pendapat lain dalam mazhab Syafi’I. Pendapatinilah yang paling tepat karena memiliki dasar oijakan berupa sabda dan perbuatan Nabi Muhammad SAW.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانُوْا فِى اْلجَاهِلِيَّةِ اِذَا عَقُّوْا عَنِ الصَّبِيّ خَضَبُوْا قُطْنَةً بِدَمِ اْلعَقِيْقَةِ. فَاِذَا حَلَقُوْا رَأْسَ الصَّبِيّ وَضَعُوْهَا عَلَى رَأْسِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ص: اِجْعَلُوْا مَكَانَ الدَّمِ خَلُوْقًا. ابن حبان

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang pada masa jahiliyah apabila mereka ber’aqiqah untuk seorang bayi, mereka melumuri kapas dengan darah aqiqah, lalu ketika mencukur rambut si bayi mereka melumurkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW bersabda, “Gantilah darah itu dengan minyak wangi“. [HR. Ibnu Hibban juz 12, hal. 124, no. 5308

Pendapat ini juga dikutip dari beberapa ulama salaf. Al-Hakim meriwayatkan dengan sanadnya dari Atha’, dari Ummu Kurz dan Abu Kurz berkata bahwa seorang wanita dari keluarga Abdurrahman melahirkan seorang bayi, akan kami sembelihkan untuknya seekor unta. Aisyah R.A berkata “Tidak. As-Sunnah lebih baik, untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Dipotong mengikuti ruas sendi dan tidak boleh dipatahkan tulangnya. Dikonsumsi sendiri, dibagi-bagikan dan di sedekahkan. Hendaknya iitu dilaksanakan pada hari ketujuh kelahiran. Kalu tidak sempat, maka hari keempat belas. Kalu tidak sempat, maka hari keduapuluh satu.”

Ibnu hazm meriwayatkan dengan sanadnya dari Yusuf bin Malik, bahwa dia masuk menemui Hafshah binti Abdurrahman bin Abu Baka. Suaminya, al-Mundzir Ibnu Zubair, mendapatkan anak. “Aku katakana kepadanya; Akankah engkau aqiqahi anakmu dengan seekor unta? Dia menjawab, “kami berlindung kepada Allah. Bibiku Aisyah pernah mengatakan “Untuk anak laki-laki dua ekor kambing, dan untuk anak perempuan satu ekor kambing. klik jasa aqiqah