Breaking News

Apa Pemicu Orang Lakukan Korupsi?

Sampai sekarang ini rumor korupsi di Indonesia belum tersudahi sampai habis. Nyaris tiap tahun ada selalu kabar berita mengenai kasus korupsi. Bahkan juga, ketika negara kita mengalami wabah ada pelaku-oknum yang lakukan korupsi pada bansos.

Apa Pemicu Orang Lakukan Korupsi?

Sudah pernahkah kalian berpikiran pemicu kenapa orang dapat dengan berani tergerak lakukan korupsi dan sampai hati ambil hak seseorang? Apa dalam dianya tidak ada empati? Atau memang dianya egois?

Yok, baca keterangan di bawah ini.

Table of Contents

– Faktor Dampak Sikap Korupsi
– 1. Pemahaman
– 2. Personalitas
– 3. Motivasi
– 4. Locus of kontrol
– 5. Situasi keadaan atau Dinamika Barisan

– Skema Sikap Korupsi
– 1. Legislatif
– 2. Penegak Hukum
– 3. Eksekutif

Faktor Dampak Sikap Korupsi

Merujuk pada buku Psikologi Korupsi punya Abidin dan Pelajarndi (2015), Pelajardi menjelaskan jika ada factor psikis yang berperanan jadi pemicu orang lakukan korupsi.

Berikut 5 tipe factor yang memengaruhi sikap korupsi:

1. Pemahaman

Factor pemicu sikap korupsi ini dikuasai oleh pemahaman mengenai korupsi, etika sosial dan penegakan hukum. Misalnya seperti pengertian korupsi untuk pribadi itu, pengetahuan mengenai etika sosial di dalam dianya dan penglihatan mengenai keteguhan hukum. Tetapi, kuat atau kurang kuatnya tingkat kecondongan korupsi dikuasai oleh pemahaman mengenai pimpinan.

Bila, seorang pimpinan dipersepsi sebagai figur yang bersih dan jadi panutan karena itu bisa turunkan dorongan pribadi untuk lakukan korupsi. Bisa disaksikan jika sebenarnya mempunyai pimpinan yang memiliki integritas sanggup memengaruhi kecondongan untuk lakukan korupsi.

2. Personalitas

The big five personality atau disebutkan OCEAN yang terbagi dalam openness to pengalaman, conscientiousness, extraversion, agreeableness, neuroticism. Berdasar riset yang sudah dilakukan oleh Conelly dan Ones (2008) memperlihatkan jika ada jalinan di antara type personalitas dengan tingkat korupsi.

Di negara dengan tingkat neuroticism rendah dan extraversion tinggi condong mempunyai tingkat korupsi yang rendah. Maknanya pribadi dengan neuroticism rendah yakni mempunyai ciri-ciri tenang, santai dan tidak emosional. Extraversion yakni sukai bergaul, aktif, dinamis, semangat. Mereka mempunyai ciri-ciri usaha keras untuk memperoleh apa yang mereka ingin.

3. Motivasi

Pemicu menjalarnya korupsi di indonesia yakni motivasi atau pola satu dorongan pada diri manusia untuk gerakkan, arahkan dan tentukan sikap. Menurut Wu dan Huang (2013) sikap korupsi muncul karena pribadi itu mempunyai dorongan yang kuat untuk lakukan korupsi. Aktor lakukan korupsi karena bermotif untuk berprestasi dan berkuasa.

Misalnya yakni saat seorang mempunyai tekad untuk capai sebuah status dan ingin mempunyai power maka usaha untuk lakukan apa saja itu untuk raih maksudnya. Kadang, sebagian orang ikhlas lakukan beberapa hal kotor untuk capai keperluannya.

4. Locus of kontrol

Locus of kontrol ialah factor pemicu korupsi intern dan external yakni kepercayaan pribadi pada pusat kendalian hidupnya, apa di pada diri (intern) atau di luar (external). Pribadi yang mempunyai kontrol intern diidentikkan dengan mempunyai standard kepribadian, bertanggungjawab dan mempunyai tekad untuk menantang penekanan barisan.

Dan factor external pemicu pelanggaran ham korupsi ialah pribadi dengan lokus kontrol external diidentikkan secara mudah dipengaruhi oleh lingkungan, kurang mempunyai tanggung-jawab dan gampang berserah pada penekanan barisan.

Pribadi yang pusat kendaliannya ada pada external maka mempunyai potensi lakukan korupsi. Alasanya jika pribadi itu mendasarkan sikapnya ke orang lain maknanya gampang dipengaruhi oleh seseorang. Saat ditempatkan pada peluang atau bujukan karena itu susah untuknya untuk menghindar keadaan itu.

5. Situasi keadaan atau Dinamika Barisan

Sikap pribadi dalam barisan dipisah jadi tiga ide yakni obedience, conformity dan compliance. Obedience yakni sikap dan sikap yang ditetapkan oleh orang yang lain mempunyai kewenangan semakin tinggi. Dia taat karena takut dan cemas bila tidak ikuti perintah itu.

Misalkan, dalam susunan kerja follower jika pimpinan wilayah memerintah untuk melakukan project tanpa tender karena itu petinggi yang lain akan ikuti perintah itu sebab menganggap tidak punyai kuasa untuk menampik.

Conformity ialah sikap dan sikap pribadi yang ditetapkan oleh sebagian besar dalam barisan. Contoh dalam sikap pemicu korupsi di perusahaan yakni sebagian besar orang dalam barisan lakukan korupsi hingga dia ikuti sikap itu karena dia yakini jika itu tadi etika barisan. Dia lakukan korupsi karena tidak nyaman bila mempunyai sikap yang lain.

Compliance ialah sikap dan sikap tertentu karena telah bermufakat. Misalkan seorang pimpinan wilayah dijanjikannya akan terima beberapa uang dari pebisnis bila mengeluarkan surat ijin pembangunan mall

Skema Sikap Korupsi

Sikap korupsi bisa terjadi dimanapun, entahlah itu ada di lembaga sah atau tidak sah. Ini bisa terjadi dari beragam pemicu korupsi yang telah diterangkan di atas dari pribadi atau lingkungan. Berikut, contoh-contoh ini sebagai sikap pelaku untuk melakukan perbuatan korupsi yang bisa jadi deskripsi:

1. Legislatif

Sikap korupsi yang sudah dilakukan oleh pelaku anggota DPR yakni terima suap dan gratifikasi dari pelaku pebisnis dan petinggi pemerintahan. Mereka mempunyai kuasa dalam pembikinan bujet dan pemantauan hingga banyak kesempatan untuk lakukan korupsi.

2. Penegak Hukum

Pelaku penegak hukum jadi factor intern pemicu korupsi yakni hakim, beskal, polisi, pengadilan dan Mahkamah Agung. Selainnya sikap terima suap dan gratifikasi, mereka bisa lakukan pemerasan pada beberapa terdakwa dan beberapa orang yang mempunyai masalah hukum.

Ini bisa muncul karena sebagai penegak hukum mereka berkekuatan dan kewenangan hukum hingga saat lakukan gertakan dan show of power pada beberapa orang yang mempunyai kasus hukum.

3. Eksekutif

Pelaku aktor ialah seorang yang lakukan korupsi sama seperti yang mempunyai kedudukan yang tinggi seperti menteri, gubernur, dan bupati/walikota lakukan korupsi dalam bermacam-macam seperti penyimpangan bujet APBN atau APBD, dana-dana pemerintahan yang diatur oleh mereka.

Pelaku ini terima suap dan gratifikasi dari pebisnis atau legislatif atau bahkan juga saat mereka terlilit hukum dalam memberikan suap pada penegak hukum.

Begitu keterangan mengenai argumen dibalik seorang lakukan factor korupsi. Diharap karena ada keterangan ini, jadi lebih sanggup mengatur diri kita.

 

kunjungi juga hipnoterapi jogja